Senin, 22 September 2014

HAIDAR SATRIADHI putra ku

Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 20 September 2014 tepat pukul 12.05 WIB bertempat di rumah sakit ibu dan anak Banda Aceh kau telah hadir disisi kami, tanggismu pecahkan suasana gelisah mama dan ayah mu menjadi haru dan bahagia. kamu karunia terindah yang ALLAH berikan kepada kami. setelah kamu ada, ekspektasi kami terhadap masa depan mu cukup besar untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan benar, sebelum kamu lahir kami telah mencari beberapa nama untuk bisa menyematkan di hati orang yang mengenalmu nanti. dari sekian nama yang ada kami sepakat melukiskan nama mu yaitu HAIDAR SATRIADHI yang berarti pemberani dan kesatria yang kami ambil dari bahasa arab (Haidar) dan Indonesia (Satria), Filosofinya kamu sebagai seorang lelaki yang harus berani menegakkan kebenaran yang dirodhoi Allah dan kesatria dalam bertindak, baik hati, memimpin dengan bijak dan bertanggungjawab. di mana kondisi sekarang ini kebanyakan orang takut berbuat yang benar dan suka lari dari tanggungjawab, karna itu kami ingin kelak menjadi dirimu sendiri. Panggilanmu adalah Riyadh merupakan filosofinya kesejahteraan, kedekatan dan keramahtamahan. itulah harapan kami sebagai orang tua, Semoga kita sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Selamat berjuang nak....!

Minggu, 01 September 2013

Perlunya Konsep Kepemimpinan Transformasional dalam Pemerintahan di Indonesia

Indonesia saat ini di semarakkan dengan popularitas seorang pemimpin yang fenomenal layaknya Jokowi Widodo. Gubernur DKI Jakarta yang baru terpilih pada pemilukada di tahun 2012 kemarin, inilah yang membuka paradigma berpikir terhadap fungsi pemimpin dalam pemerintahan menjadi pelayan masyarakat (public service). Di hadapkan dengan permasalahan Jakarta saat ini dengan permasalahan fasilitas public tentunya memerlukan suatu perencanaan yang matang untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah tersebut.
Dengan gaya blusukan sang Jokowi membuat hati masyarakat seraya terobati secara langsung, sehingga membawa manfaat bahwa setiap kebijakan yang dibuat oleh Jokowi merupakan kebijakan yang solutif. Mungkin tidak semua pemimpin daerah kita menggunakan gaya Jokowi tersebut, namun seandainya dipikirkan kembali inilah karakter pemimpin untuk Indonesia yang mengedepankan pendekatan moral dan komunikasi dengan masyarakat, bukan hanya duduk di kursi jabatan sambil melihat kondisi masyarakat yang memburuk. Menilai  Jokowi tersebut kita membayangkan sebuah konsep kepemimpinan baru yang seandainya di pegang teguh oleh para pemimpin daerah ini akan bisa membawa perubahan yaitu mengubah konsep kepemimpinan kita menjadi konsep kepemimpinan yang transformasional.
Berdasarkan pemikiran Ohman (1997:16-57), menjelaskan secara singkat, bahwa perkembangan teori kepemimpinan dari waktu ke waktu, dimana pada umumnya, para pakar kepemimpinan mengklasifikasi definisi kepemimpinan dari berbagai macam sudut pandang yaitu sebagai personality dan pengaruhnya, sebagai The Art of Inducing Complience, sebagai praktek mempengaruhi, sebagai suatu seni atau perilaku, sebagai bentuk persuasion, sebagai suatu power relation, sebagai suatu instrument untuk pencapaian tujuan, sebagai suatu pengaruh interaksi, sebagai suatu Differential Role, dan sebagai suatu the intiation structure. Dan dikenal ada beberapa pendekatan dalam mengklasifikasikan teori-teori kepemimpinan yaitu: Great-Man Theory, Trait Theory, Charismatic Theory, Situsional Theory, Contingency Theory, Path-Goal Theory, dan Transformational Leadership theory. Kita sering mendengar gaya Soekarno dalam berpidato yang mampu membuat terkesima inilah salah satu bentuk gaya kepemimpinan karismatik, kemudian Soeharto yang dikenal dengan gaya otoriternya ini merupakan rangkaian gaya kepemimpinan yang tergabung dalam seni kepemimpinannya masing-masing. Namun dalam tulisan saya kali ini lebih memaparkan Apakah kepemimpinan transformasional itu?.
Berdasarkan Koehler dan Pankowski (1997:79), bahwa seorang pemimpin tranformasional perlu memiliki enam kategori keahlian dasar (basic skill), yaitu keahlian konseptual (conception skiil), keahlian teknikal (technical skill), keahlian komunikasi (communication skill), keahlian menulis (writing skill), keahlian mengajar (teaching skill) dan keahlian dalam memberikan latihan (coaching skill). Melihat apa yang dijelaskan Koehler dan Pankowski kita dapat menyimpulkan bahwa ada tiga keahlian pokok yaitu keahlian komunikasi (communication skill), keahlian teknikal (technical skill), dan keahlian konseptual (conception skiil).
Melalui keahlian komunikasi (communication skill), seorang pemimpin akan mudah membentuk kerja sama tim (team work), kekompakan dalam sebuah pancapaian tujuan organisasi, dapat diterima oleh berbagai pihak, membangun motivasi kerja bawahan, mengarahkan bawahan dan membangun gagasan atau idea sehingga menciptakan sebuah relasi (relationship) yang dapat difungsikan untuk kegiatan musyawarah atau rapat dalam membentuk opini dan pengambilan keputusan sehingga akan mudah berjalan dengan baik. Bukan hanya komunikasi internal saja yang perlu dibentuk seorang pemimpin, perlunya juga sebuah komunikasi terhadap pihak eksternal khususnya masyarakat sehingga dalam pelaksanaan kebijakan yang kita buat akan mengalami jalan mudah, karena telah mendapatkan kesepakatan bersama dari berbagai pihak, inilah yang menciptakan sebuah relasi sosial (social relationship). Seorang pemimpin yang baik bukan hanya pandai dalam berkomunikasi, diperlukan pula keahlian teknikal (technical skill), dan keahlian konseptual (conception skiil) untuk menunjang seorang pemimpin dalam pencapaian tujuan yang diinginkannya. Dengan kedua keahlian tersebut maka penyusunan perencanaan yang strategis dan tepat sasaran dapat dibentuk secara efektif dan efisien melalui hal-hal yang di prioritaskan sesuai sumber masalahnya.
Konsep kepemimpinan transformasional merupakan seni yang harus di amalkan oleh seluruh pemimpin Indonesia, sebab seorang pemimpin tranformasional akan mengedepankan komunikasi dalam berinteraksi dengan seluruh elemen yang dipimpinnya. Untuk menjadi pemimpin seperti diperlukan karakter yang mampu mempengaruhi orang lain secara individu. Pemimpin transformasional tidak pernah lahir namun dibangun oleh individu tersebut melalui kepekaan terhadap lingkungan, inilah yang akan membangkitkan seorang pemimpin yang tranformasional dengan lebih mengedepankan keahlian komunikasi, keahlian teknikal, keahlian konseptual, moralitas, dan kepercayaan diri. Semua itu dapat dibangun dengan kepekaan kita terhadap lingkungan (Emotional Question) dan wawasan keilmuan baik agama (Spritual Question) maupun pengetahuan lain (Intelectual Question) yang harus dibangun secara dini untuk menuju era perubahan.

Buku : Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan: Dr. Ir. Eko Maulana Ali, SAP, M. Si, M. Sc. Hal. 59
Selamat jalan Pak, semoga amal ibadah mu diterima di sisiNya, dan terima kasih atas jasa-jasa mu dalam memajukan pendidikan di UT...... 

 

Administrator profesional diantara kemampuan teoritis dan aplikasi


Administrator profesional diantara kemampuan teoritis dan aplikasi

  1. PENDAHULUAN
Administrator professional merupakan unsure yang sangat dominan dalam sebuah organisasi, administrator juga yang menggerakkan sebuah organisasi mencapai tujuan yang di inginkan sebagaimana tujuan bersama. Pada zaman yang semakin modernisasi ini Perkembangan ilmu teknologi , sosial, ekonomi, dan lingkungan menimbulkan permasalan yang harus dihadapi organisasi dan administrator menjadi semakin luas dan kompleks. Permasalahn tersebut terus berkembang sesuai percepatan perubahan yang terjadi.
Situasi yang terjadi menjadikan pembelajaran bahwa permasalahan tidak tumbuh secara linier, dimana banyak sekali hal-hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dengan demikian Administrator dituntut untuk terus menerus mempersiapkan dirinya mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Pengalaman yang dialami berbagai organisasi di Negara maju menunjukkan bahwa hanya organisasi yang secara konsisten terus meningkatkan pengembangan aministratornya yang dapat bertahan.
Dalam kenyataannya organisasi seringkali terjadi keadaan yang tidak mengalami pertumbuhan yang disebabkan keengganan manusia untuk mengikuti perubahan, dimana perubahan dianggap bisa menyebabkan dis equilibrium (hilangnya keseimbangan moral). Hal ini mengakibatkan penyakit masyarakat atau tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam organisasi sehingga perlu dilakukan pengembangan Administrator untuk melakukan evaluasi, adaptasi, kaderisasi dan inovasi.
Dalam organisasi Administrator harus terus menerus mengembangkan kemampuannya dalam kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berubah, sehingga dapat mencapai kinerja yang optimal yang dilaksanakan oleh seluruh anggota Administrator dalam organisasi.  Administrator dituntut untuk terus mempelajari teori-teori administrasi guna mengaplikasikan dengan maksimal dalam organisasi dan berusaha meningkatkan efektivitas keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian.
Dalam kontek Administrator professional disini penulis ingin menguraikan antara teori-teori-teori dan studi yang harus dipakai oleh Administrator dan mengaplikasikan sebagai Administrator-administrator untuk mencapai tujuan organisasi, tujuan yang hendak dicapai dalam organisasi juga ditentukan oleh semua administrator-administrator yang menjalani proses secara langsung untuk mencapai tujuan tersebut. Maka disinilah dibutuhkan administrator professional yang menguasai teori-teori dan mengaplikasikan dalam organisasi. 

  1. ANALISIS MASALAH
Pengertian Administrasi
Administrasi berasal dari bahasa Latin : Ad = intensif dan ministrare = melayani, membantu, memenuhi. Administrasi merujuk pada kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan.
Administrasi dalam arti luas. Menurut The Liang Gie (1979, 11) mengatakan “Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu”(1980:9). Administrasi secara luas dapat disimpulkan pada dasarnya semua mengandung unsur pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerjasama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pendapat lain mengenai administrasi dikemukan oleh Sondang P. Siagian mengemukakan “Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara 2 orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya” (1994:3). Berdasarkan uraian dan definisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi adalah seluruh kegiatan yang dilakukan melalui kerjasama dalam suatu organisasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan. 
Jika pendapat para ahli tersebut dianalisis lebih mendalam sesuatu Negara yang ingin mencapai kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan modern tidak mempunyai pilihan lain selain dari pada mengutamakan pembinaan serta pengembangan administrasinya yang sesuai dengan faktor-faktor lingkungan (ecological factors) bangsa dan Negara itu serta mengembangkan administrator-administrator pada semua lini baik di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, militer dan lainnya.  Apabila pelaksanaan suatu keputusan dengan efisien dan ekonomis itulah yang merupakan sasaran utama dari administrasi.
Sondang P. Siagian menggambarkan bahwa administrasi sebagai proses yang harus dilalui oleh Administrator dalam mencapai tujuan. Dimana suatu proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan teertentu yang dimulai sejak adanya dua orang yang bersepakat untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak dapat dikatakan kapan suatu proses tersebut berakhir, dan juga tidak dapat diketahui kapan kedua orang bekerja sama tersebut memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi. 
Dalam administrasi untuk menggerakkanya membutuhkan administrator yaitu orang-orang yang bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan administrasi yang sebagaimana pengertian diatas
PERAN TEORI STUDI ADMINISTRASI
a.       Teori Deskriptitif
                        Konsep Stephen K. Beiley dan William L. Morrow dalam membahas peran teori dan praktik administrasi public mengatakan teori berbeda-beda antara satu dan yang lain sesuai dengan jenis dan golongan masing-masing teori dimana mereka mengatakan pembahasan peran teori-teori administrasi public/Negara. Administrasi pubik yaitu untuk menggambarkan bersama-sama tentang pengetahuaan umat manusia dan proposisi-proposisi yang telah teruji dari ilmu pengetahuan Sosial dan prilaku serta penerapannya bagi penyempurnaan tugas-tugas dalam proses pemerintahan guna mencapai tujuan-tujuan yang sah seperti yang diamanatkan oleh konstitusi,  teori ini juga berperan untuk menyempurnakan apa-apa yang dikerjakan dalam kegiatan administrasi. Bahkan Bailey menyatakan bahwa dalam rangka penyempurnaan para administrator dapat diterapkan riset dan teori-teori dari disiplin yang lain. Para sarjana juga mengungkapkan yang berhubungan dengan teori mempunyai dua argument, menentukan sebab-akibat yang mempengarui prilaku dan mendorong serta menyediakan petunjuk dengan mana prilaku tertentu dapat dirubah untuk meningkatkan pelayanan yang lebih berguna serta pencapaian tujuan yang telah diamanatkan.  Penemuan tersebut membantu para administrator berprilaku secara professional dan melakukan misi tertentu megubah arah kebijakan public dengan memamfaatkan keahlian birokrasi. Teori ini digunakan untuk menyempurnakan pemerintahan untuk itu teori menyertai perubahan.
b.      Teori  Normatif
Teori normative yaitu teori-teori yang berisi nilai-nilai yang menjadi arternatif keputusan yang seharusnya diambil oleh Praktisi dan apa yang harus dikaji dan dianjurkan kepada Administrator Profesional. Teori normatif  berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantu Administrasi public untuk menetapkan tugas dan pokok dan fungsinya (tupoksi) misalnya Perlukah administrator memperkenalkan rencana menyeluruh untuk pemeliaraan dan konservasi hutan  belantara dan sumber alam? Atau apakah kebijakan Joko Widodo dalam melelang jabatan kepada Lurah dan Camat di DKI Jakarta akan berdampak pada meningkatnya produktifitas kinerja Lurah dan Camat?
            C. Teori Asumtif
                        Teori ini yang memberikan pemahaman yang benar tentang realitas seorang administrator, suatu teori yang tidak mengambil suatu asumsi model setan maupun model malaikat birokrat. Teori ini juga berhubungan dengan dengan peningkatan kualitas praktek-praktek administrasi dengan menerima kelaziman orang dalam interaksinya dengan lembaga politik dan memahami mengapa ia berkelakuan seperti yang ia kerjakan dalam setting birokrasi. Disini administrasi public membatasi realitas/kenyataan disebabkan pengetahuan yang kita miliki tentang orang-orang dan magaimana hubungan administrator dengan lingkungan lembaganya masih kurang lengkap. Menurut teori ini juga administrator professional dapat membantu untuk menjalankan administrasi sesuai batas – batas lingkungan lembaganya.
c.       Teori Instrumental
Teori ini mengajarkan administrator professional teknik-teknik administrasi manajemen.  Berhubungan dengan bagaimana dan kapan untuk mengimplementasikan program-program pertumbuhan merupakan bagian langsung untuk menyatakan kebutuhan dari program – program itu sendiri. Serta bagaimana dan kapan program itu harus dilaksanakan oleh administrator profesional.
                ADMINISTRATOR DIANTARA TEORI DAN APLIKASI
                        Dalam evolusi teori Morrow secara garis besar membagi evolusi teori ini kedalam dua golongan besar yaitu teori administrasi klasik dan administrasi modern (Contemporary theory). Pemamfaatan teori administrasi public telah mengiringi pertumbuhan administrasi public sebagai salah satu disiplin ilmu yang telah menyadarkan diri pada birokrasi public, dapat dikatakan telah terjadi perkembangan semenjak tradisi-tradisi menjadi norma-norma didalam administrasi public, dengan tekanan-tekanan politik menjadi adminitrasi sebagai instruman yang lebih efektif dari kemauan public. Korelasi adnata kepopuleran administrasi public klasik dengan penekanannya pada efesiensi baik pada privat dan pada sektor-sektor public. Ajaran Taylor atau yang sering disebut aliran manajemen ilmiah menekankan pada peleburan atau penyatuan seumber daya atau tenaga kerja  untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan cara yang lebih efisien, penekatan pada Manajemen mekanik, ukuran alat-alat kerja, gerakan para pekerja dan training para npekerja dengan tujuan memperoleh satu cara yang terbaik guna mengimplementasikan suatu kebijakan yang ditetapkan sebelumnya.
            Berbeda dengan ajaran Taylor, Sosiolog Jerman Max Weber (1864-1920) menekankan pada deskripsi yang agak preskripsi, menekankan pada pola kewenangan didalam birokrasi yaitu Tipe Ideal dimana birokrasi adalah suatu bentuk organisasi yang efisien, efektif, dan mampu meningkatkan produktifitasnya. Sebagaimana karakteristiknya sebagai berikut :
a.       Aturan dan Prosedur formal. yaitu adanya pengaturan fungsi –fungsi resmi yang saling terikat oleh aturan aturan yang menjadikan fungsi resmi itu satu kesatuan yang utuh.
b.      Spesialis pekerjaan. Adanya pembagian kerja yang jelas dalam organisasi sehingga setiap anggota organisasi (administrator) mempunyai tugas yang jelas dan juga mempunyai wewenang yang seimbang dengan tugas yang dijalankan.
c.       Kejelasan hierarki. Yaitu tingkatan yang lebih rendah diawasi oleh tingkatan yang lebih tinggi sehingga tersusun suatu hierarki otoritas yang runut mulai dari tingkatan yang tinggi sampai tingkatan yang terendah
d.      Pegembangan karir berdasrkan merit system. Adanya system penerimaan dan penempatan karyawan didasrkan pada teknis tanpa memperhatikan sama sekali koneksi, hubungan keluarga maupun favoritme.
e.       Impersonality. Artinya adanya pemisahan antara pemilikan alat produksi maupun administrasi dari kepemimpinan organisasi. Pemisahan ini akan membuat organisasi bersipat Impersonal, yang dianggap penting untuk mencapai efesiensi.
f.       Adanya objektifitas dalam melaksanakan tugas yang berkaitan dengan suatu jabatan dalam organisasi.
g.      Kegiatan administratif. Keputusan – keputusan dan peraturan dalam organisasi selalu dituangkan dalam bentuk tertulis.
Sebagai tipe ideal bentuk birokrasi dari Weber memang menjanjikan keunggulan dalam bagi Administrator Profesional dalam mencapai efisiensi dan efektifitas organisasi. Dengan birokrasi idealnya posisi – posisi administrator akan diisi melalui proses seleksi yang didasarkan pada keahlian. Subjektifitas dalam penempatan pegawai digantikan oleh objektifitas, pemisahan manajemen dengan pemilik telah menghasilkan suatu mekanisme rekrutmen para professional. Pemisahan ini akan dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi para professional untuk mengambil keputusan yang rasional. Rasionalitas dalam pengambilan keputusan akan mempertinggi efisiensi.
Sementara itu Henry Fayol berusaha menjelaskan prinsip-prinsip umum yang diterapkan pada semua level administrasi  dan berusaha menjelaskan fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manager. Menurut prinsip-prinsip yang diamatinya dalam melakukan pekerjaan itu, dia tidak berusaha menghasilkan suatu teori logis atau filsafat yang serba lengkap mengenai manajemen.   Menurut Fayol ada 14 prinsip manajemen yaitu a. Division Of  Labor (Pembagian kerja) b. Autority  (kewenangan) c. Discipline (disiplin) d. Unity of command (Kesatuan komando) e. Unity of management (Kesatuan arah manajemen) f. Menomorduakan kepentingan perorangan dari kepentingan umum g. Remuneration (penggajian/Upah) h. Centralization (Sentralisasi) i. the Hieralchy (jenjang kedudukan) j. Order (tata tertib) k. Equity (Keadilan/kesamaan) l. Stabiliti of staff (Kestabilan Staf) m. Initiative (Inisiatif atau prakarsa) n. Esprit de corps (Semangat kops). Semua maksud dari  prinsip-prinsip tersebut adalah untuk administrative actions yang bisa dipakai oleh administrator professional untuk diterapkan dalam organisasi mencapai tujuan.
Dalam tulisan Herbert Simon pada tentang administrative Behavior yang terbit tahun 1947 tentang prinsip-prinsip administrasi dari Henry Fayol, dimana dia mengatakan bahwa ditemukan dua prinsip kontradiktif yang cocok untuk situasi tertentu. Prinsip-prinsip tersebut tidak jelas, ambiguous dan tidak terdefinisi secara baik. Sebagai suatu prinsip ilmiah prinsip-prinsip tersebut tidak berguna. Maksud Simon prinsip-prinsip itu dapat diumpamakan sebagai pribahasa karena prinsip itu tidak menyediakan bimbinganatau petunjuk bagaimana prinsip-prinsip itu akan diterapkan atau akan diimplementasikan. Prinsip-prinsip administrasi menyediakan satu kumpulan pilihan dalam satu situasi tapi tidak jelas tentang ‘apa yang seharusnya menjadi dasar pilihan – pilihan itu’. Bagi Simon teori administrasi concern dengan bagaimana suatu organisasi harus deconstruct dan dioperasikan untuk mencapai tujuan yang efisien. Berdasrkan hal-hal tersebut. Simon mengajukan konsep pengambilan keputusan yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon ini dapat dilihat dari tiga Aspek yaitu
1.      Keputusan adalah dasar dari teori administrasi yaitu suatu keputusan yaitu suatu kesimpulan yang diambil dari sejumlah premis-premis tertentu, apakah itu nilai ataukah itu fakta.
2.         Instrumental Rationality merupakan otoritas atau kewenangan adalah kekuasaan untuk membuat keputusan yang membimbing orang lain.
3.         Satisfying yaitu batasan dari pengambilan keputusan yang sifatnya rasional.

Dalam birokrasi kita memang membutuhkan administrator professional untuk mengelola pemerintahan. Dimana selama ini kesan yang tidak baik terhadap birokrasi dikarenakan pelayanannya yanga terbelit-belit, lambat, mempersulit, tidak efisien dan tidak adktif. Apa lagi selama ini bagi masyarkat awam birokrasi adalah penguasa  yang sangat menentukan nasib mereka yang hanya berstatus rakyat dan bagi mereka birokrasi juga Penggusuran, pungli, kolusi, korupsi dan berbagai konotasi menyakitkan lainnya. Padahal itu tidak perlu terjadi pada dasarnya tujuan utma birokrasi adalah menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai dengan cepat, tepat, dan dengan biaya yang masuk akal. Nah disilah perlunya administrator professional yang bisa mengaplikasikan teori-teori administrasi dalam upaya rasional dan legal untuk mengelola organisasi secara efisien dan efektif,  memperlakukan semua orang secara sama (equity), pengisian jabatan atas dasar keahlian dan pengalaman, tidak melakukan penyalahgunaan jabatan, mengatur standar kerja yang jelas, system administrasi yang teratur dan rapi serta pengadaan dan pelaksanaan aturan bagi kepentingan organisasi yang mengikat bagi semua anggotanya. Administrator professional juga dituntut menjauhi praktek partikularisme (napotisme & primordialisme) dalam kepegawaian ataupun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat (Miftah Thoha, 1995). Begitu juga dalam pemberian lisensi dan perizinan usaha, misalnya harus jelas persyaratan, prosedur, biaya, waktu penyelesaian, dan bersikap terbuka sehinnga pihak yang berkepentingan dapat menyelesaikan urusannya tanpa menghabiskan waktu dan biaya yang tidak perlu.
            Dalam mempertahankan konsistensinya Administrator professional dituntut untuk terus mengembangkan teori-teori administrasi dan mengaplikasikannya dalam organisasi serta mengembangkannya sesuai dengan perubahan-perubahan lingkungan dan tuntutan birokrasi yang berubah-berubah serta meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut pelayanan yang sederhana , adanya kepastian, keamanan, kenyamanan keterbukaan, efesiensi dan ekonomis, keadilan dan ketepatan waktu. Untuk itu Administrator untuk terus-menerus memperbaiki dirinya.


  1. KESIMPULAN
Administrator adalah orang-orang yang bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan administrasi. Menurut The Liang Gie (1979, 11) mengatakan “Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi Adminitrator merupakan orang-orang yang terlibat dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam praktiknya organisasi membutuhkan Administrator-administrator  yang professional untuk menggerak proses administrasi sehingga dapat tercapai tujuan yang di inginkan. Lahirnya  administrator - administrator profesional berawal dari mempelajari teori-teori yang dikemukan oleh para ahli-ahli administrasi dan mengaplikasikannya kedalam pelaksanaan administrasi organisasi untuk mencapai tujuan yang di inginkan.
Menurut Bailey peran teori dalam administrasi public bisa dilihat dari aspek studi maupun praktik administrasi public. Menurut Bailey ada empat golongan teori yaitu :
1.      Deskriptif
2.      Normatif
3.      Asumtif
4.      Instrumantal
Penyempurnaan akhir praktik administrasi akan tergantung pada kemampuan ahli-ahli teori dalam memformulasikan secara konsisten dan memfokuskan atas citra kepribadian Administrator atau lembaga.
Dalam tulisan Herbert Simon mengajukan konsep pengambilan keputusan yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon ini dapat dilihat dari tiga Aspek yaitu
1.      Keputusan adalah dasar dari teori administrasi yaitu suatu keputusan yaitu suatu kesimpulan yang diambil dari sejumlah premis-premis tertentu, apakah itu nilai ataukah itu fakta.
2.      Instrumental Rationality merupakan otoritas atau kewenangan adalah kekuasaan untuk membuat keputusan yang membimbing orang lain.
3.      Satisfying yaitu batasan dari pengambilan keputusan yang sifatnya rasional.
Teori Morrow secara garis besar membagi evolusi teori ini kedalam dua golongan besar yaitu teori administrasi klasik dan administrasi modern (Contemporary theory).
            Dalam mempertahankan konsistensinya Administrator professional dituntut untuk terus mengembangkan teori-teori administrasi dan mengaplikasikannya dalam organisasi serta mengembangkannya sesuai dengan perubahan-perubahan lingkungan dan tuntutan birokrasi yang berubah-berubah serta meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut pelayanan yang sederhana , adanya kepastian, keamanan, kenyamanan keterbukaan, efesiensi dan ekonomis, keadilan dan ketepatan waktu. Untuk itu Administrator untuk terus-menerus memperbaiki dirinya.













DAFTAR PUSTAKA
The Liang Gie (1979) Unsur-unsur Adminisrasi. Yokyakarta: Karya Kencana
Siagian, Sondang P. (1971). Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung
Morrow, William L. (1975). Publik Administration, Politics and The Political System. New York: Random House Inc
Henry, Nicholas. (1998) Administrasi Negara. (diterjemahkan oleh Luciana D. Lontoh ). Jakatata: CV Rajawali
Harmon, Michel M. and Richard Mayer. (1986). Organization Theory for Public Administration. Boston: Little Brown & Co
Robbins, Stephen P. (1994) Teori Organisasi. Stuktur, Desain & Aplikasi). Edisi 3. Jakarta: Ancan
Thoha, Miftah. (1995). Birokrasi Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Batang Gadis   
artikel non-personal. 04 Agustus 2013. Administrator: Wikipedia Bahasa Indonesia

komentar

saran dan kritik anda memperbaiki kekurangan yang ada
fajaro. Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.