Fajrialafan
Berpikir dan Bertindak Objektif
Kamis, 30 April 2015
Senin, 22 September 2014
HAIDAR SATRIADHI putra ku
Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 20 September 2014 tepat pukul 12.05 WIB bertempat di rumah sakit ibu dan anak Banda Aceh kau telah hadir disisi kami, tanggismu pecahkan suasana gelisah mama dan ayah mu menjadi haru dan bahagia. kamu karunia terindah yang ALLAH berikan kepada kami. setelah kamu ada, ekspektasi kami terhadap masa depan mu cukup besar untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan benar, sebelum kamu lahir kami telah mencari beberapa nama untuk bisa menyematkan di hati orang yang mengenalmu nanti. dari sekian nama yang ada kami sepakat melukiskan nama mu yaitu HAIDAR SATRIADHI yang berarti pemberani dan kesatria yang kami ambil dari bahasa arab (Haidar) dan Indonesia (Satria), Filosofinya kamu sebagai seorang lelaki yang harus berani menegakkan kebenaran yang dirodhoi Allah dan kesatria dalam bertindak, baik hati, memimpin dengan bijak dan bertanggungjawab. di mana kondisi sekarang ini kebanyakan orang takut berbuat yang benar dan suka lari dari tanggungjawab, karna itu kami ingin kelak menjadi dirimu sendiri. Panggilanmu adalah Riyadh merupakan filosofinya kesejahteraan, kedekatan dan keramahtamahan. itulah harapan kami sebagai orang tua, Semoga kita sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT. Selamat berjuang nak....!
Minggu, 01 September 2013
Perlunya Konsep Kepemimpinan Transformasional dalam Pemerintahan di Indonesia
Indonesia saat ini di semarakkan dengan
popularitas seorang pemimpin yang fenomenal layaknya Jokowi Widodo.
Gubernur DKI Jakarta yang baru terpilih pada pemilukada di tahun 2012
kemarin, inilah yang membuka paradigma berpikir terhadap fungsi pemimpin
dalam pemerintahan menjadi pelayan masyarakat (public service).
Di hadapkan dengan permasalahan Jakarta saat ini dengan permasalahan
fasilitas public tentunya memerlukan suatu perencanaan yang matang untuk
mencari solusi dalam penyelesaian masalah tersebut.
Dengan gaya blusukan sang Jokowi membuat
hati masyarakat seraya terobati secara langsung, sehingga membawa
manfaat bahwa setiap kebijakan yang dibuat oleh Jokowi merupakan
kebijakan yang solutif. Mungkin tidak semua pemimpin daerah kita
menggunakan gaya Jokowi tersebut, namun seandainya dipikirkan kembali
inilah karakter pemimpin untuk Indonesia yang mengedepankan pendekatan
moral dan komunikasi dengan masyarakat, bukan hanya duduk di kursi
jabatan sambil melihat kondisi masyarakat yang memburuk. Menilai Jokowi
tersebut kita membayangkan sebuah konsep kepemimpinan baru yang
seandainya di pegang teguh oleh para pemimpin daerah ini akan bisa
membawa perubahan yaitu mengubah konsep kepemimpinan kita menjadi konsep
kepemimpinan yang transformasional.
Berdasarkan pemikiran Ohman
(1997:16-57), menjelaskan secara singkat, bahwa perkembangan teori
kepemimpinan dari waktu ke waktu, dimana pada umumnya, para pakar
kepemimpinan mengklasifikasi definisi kepemimpinan dari berbagai macam
sudut pandang yaitu sebagai personality dan pengaruhnya, sebagai The Art of Inducing Complience, sebagai praktek mempengaruhi, sebagai suatu seni atau perilaku, sebagai bentuk persuasion, sebagai suatu power relation, sebagai suatu instrument untuk pencapaian tujuan, sebagai suatu pengaruh interaksi, sebagai suatu Differential Role, dan sebagai suatu the intiation structure. Dan dikenal ada beberapa pendekatan dalam mengklasifikasikan teori-teori kepemimpinan yaitu: Great-Man Theory, Trait Theory, Charismatic Theory, Situsional Theory, Contingency Theory, Path-Goal Theory, dan Transformational Leadership theory. Kita
sering mendengar gaya Soekarno dalam berpidato yang mampu membuat
terkesima inilah salah satu bentuk gaya kepemimpinan karismatik,
kemudian Soeharto yang dikenal dengan gaya otoriternya ini merupakan
rangkaian gaya kepemimpinan yang tergabung dalam seni kepemimpinannya
masing-masing. Namun dalam tulisan saya kali ini lebih memaparkan Apakah
kepemimpinan transformasional itu?.
Berdasarkan Koehler dan Pankowski
(1997:79), bahwa seorang pemimpin tranformasional perlu memiliki enam
kategori keahlian dasar (basic skill), yaitu keahlian konseptual (conception skiil), keahlian teknikal (technical skill), keahlian komunikasi (communication skill), keahlian menulis (writing skill), keahlian mengajar (teaching skill) dan keahlian dalam memberikan latihan (coaching skill).
Melihat apa yang dijelaskan Koehler dan Pankowski kita dapat
menyimpulkan bahwa ada tiga keahlian pokok yaitu keahlian komunikasi (communication skill), keahlian teknikal (technical skill), dan keahlian konseptual (conception skiil).
Melalui keahlian komunikasi (communication skill), seorang pemimpin akan mudah membentuk kerja sama tim (team work),
kekompakan dalam sebuah pancapaian tujuan organisasi, dapat diterima
oleh berbagai pihak, membangun motivasi kerja bawahan, mengarahkan
bawahan dan membangun gagasan atau idea sehingga menciptakan sebuah
relasi (relationship) yang dapat difungsikan untuk kegiatan
musyawarah atau rapat dalam membentuk opini dan pengambilan keputusan
sehingga akan mudah berjalan dengan baik. Bukan hanya komunikasi
internal saja yang perlu dibentuk seorang pemimpin, perlunya juga sebuah
komunikasi terhadap pihak eksternal khususnya masyarakat sehingga dalam
pelaksanaan kebijakan yang kita buat akan mengalami jalan mudah, karena
telah mendapatkan kesepakatan bersama dari berbagai pihak, inilah yang
menciptakan sebuah relasi sosial (social relationship). Seorang pemimpin yang baik bukan hanya pandai dalam berkomunikasi, diperlukan pula keahlian teknikal (technical skill), dan keahlian konseptual (conception skiil)
untuk menunjang seorang pemimpin dalam pencapaian tujuan yang
diinginkannya. Dengan kedua keahlian tersebut maka penyusunan
perencanaan yang strategis dan tepat sasaran dapat dibentuk secara
efektif dan efisien melalui hal-hal yang di prioritaskan sesuai sumber
masalahnya.
Konsep kepemimpinan transformasional
merupakan seni yang harus di amalkan oleh seluruh pemimpin Indonesia,
sebab seorang pemimpin tranformasional akan mengedepankan komunikasi
dalam berinteraksi dengan seluruh elemen yang dipimpinnya. Untuk menjadi
pemimpin seperti diperlukan karakter yang mampu mempengaruhi orang lain
secara individu. Pemimpin transformasional tidak pernah lahir namun
dibangun oleh individu tersebut melalui kepekaan terhadap lingkungan,
inilah yang akan membangkitkan seorang pemimpin yang tranformasional
dengan lebih mengedepankan keahlian komunikasi, keahlian teknikal,
keahlian konseptual, moralitas, dan kepercayaan diri. Semua itu dapat
dibangun dengan kepekaan kita terhadap lingkungan (Emotional Question) dan wawasan keilmuan baik agama (Spritual Question) maupun pengetahuan lain (Intelectual Question) yang harus dibangun secara dini untuk menuju era perubahan.
Buku : Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan: Dr. Ir. Eko Maulana Ali, SAP, M. Si, M. Sc. Hal. 59
Selamat jalan Pak, semoga amal ibadah mu diterima di sisiNya, dan terima kasih atas jasa-jasa mu dalam memajukan pendidikan di UT......
Administrator profesional diantara kemampuan teoritis dan aplikasi
Administrator profesional diantara kemampuan teoritis dan aplikasi
- PENDAHULUAN
Administrator professional merupakan
unsure yang sangat dominan dalam sebuah organisasi, administrator juga yang
menggerakkan sebuah organisasi mencapai tujuan yang di inginkan sebagaimana
tujuan bersama. Pada zaman yang semakin modernisasi ini Perkembangan ilmu
teknologi , sosial, ekonomi, dan lingkungan menimbulkan permasalan yang harus
dihadapi organisasi dan administrator menjadi semakin luas dan kompleks.
Permasalahn tersebut terus berkembang sesuai percepatan perubahan yang terjadi.
Situasi yang terjadi menjadikan pembelajaran bahwa permasalahan tidak tumbuh secara linier, dimana banyak sekali hal-hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dengan demikian Administrator dituntut untuk terus menerus mempersiapkan dirinya mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Pengalaman yang dialami berbagai organisasi di Negara maju menunjukkan bahwa hanya organisasi yang secara konsisten terus meningkatkan pengembangan aministratornya yang dapat bertahan.
Dalam kenyataannya organisasi seringkali terjadi keadaan yang tidak mengalami pertumbuhan yang disebabkan keengganan manusia untuk mengikuti perubahan, dimana perubahan dianggap bisa menyebabkan dis equilibrium (hilangnya keseimbangan moral). Hal ini mengakibatkan penyakit masyarakat atau tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam organisasi sehingga perlu dilakukan pengembangan Administrator untuk melakukan evaluasi, adaptasi, kaderisasi dan inovasi.
Dalam organisasi Administrator harus terus menerus mengembangkan kemampuannya dalam kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berubah, sehingga dapat mencapai kinerja yang optimal yang dilaksanakan oleh seluruh anggota Administrator dalam organisasi. Administrator dituntut untuk terus mempelajari teori-teori administrasi guna mengaplikasikan dengan maksimal dalam organisasi dan berusaha meningkatkan efektivitas keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian.
Situasi yang terjadi menjadikan pembelajaran bahwa permasalahan tidak tumbuh secara linier, dimana banyak sekali hal-hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dengan demikian Administrator dituntut untuk terus menerus mempersiapkan dirinya mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Pengalaman yang dialami berbagai organisasi di Negara maju menunjukkan bahwa hanya organisasi yang secara konsisten terus meningkatkan pengembangan aministratornya yang dapat bertahan.
Dalam kenyataannya organisasi seringkali terjadi keadaan yang tidak mengalami pertumbuhan yang disebabkan keengganan manusia untuk mengikuti perubahan, dimana perubahan dianggap bisa menyebabkan dis equilibrium (hilangnya keseimbangan moral). Hal ini mengakibatkan penyakit masyarakat atau tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam organisasi sehingga perlu dilakukan pengembangan Administrator untuk melakukan evaluasi, adaptasi, kaderisasi dan inovasi.
Dalam organisasi Administrator harus terus menerus mengembangkan kemampuannya dalam kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berubah, sehingga dapat mencapai kinerja yang optimal yang dilaksanakan oleh seluruh anggota Administrator dalam organisasi. Administrator dituntut untuk terus mempelajari teori-teori administrasi guna mengaplikasikan dengan maksimal dalam organisasi dan berusaha meningkatkan efektivitas keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian.
Dalam kontek Administrator professional
disini penulis ingin menguraikan antara teori-teori-teori dan studi yang harus
dipakai oleh Administrator dan mengaplikasikan sebagai
Administrator-administrator untuk mencapai tujuan organisasi, tujuan yang
hendak dicapai dalam organisasi juga ditentukan oleh semua
administrator-administrator yang menjalani proses secara langsung untuk
mencapai tujuan tersebut. Maka disinilah dibutuhkan administrator professional
yang menguasai teori-teori dan mengaplikasikan dalam organisasi.
- ANALISIS MASALAH
Pengertian
Administrasi
Administrasi berasal dari bahasa Latin :
Ad = intensif dan ministrare = melayani, membantu, memenuhi. Administrasi
merujuk pada kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau
mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan.
Administrasi dalam arti luas. Menurut The Liang Gie (1979, 11) mengatakan “Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu”(1980:9). Administrasi secara luas dapat disimpulkan pada dasarnya semua mengandung unsur pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerjasama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pendapat lain mengenai administrasi dikemukan oleh Sondang P. Siagian mengemukakan “Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara 2 orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya” (1994:3). Berdasarkan uraian dan definisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi adalah seluruh kegiatan yang dilakukan melalui kerjasama dalam suatu organisasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.
Administrasi dalam arti luas. Menurut The Liang Gie (1979, 11) mengatakan “Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu”(1980:9). Administrasi secara luas dapat disimpulkan pada dasarnya semua mengandung unsur pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerjasama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pendapat lain mengenai administrasi dikemukan oleh Sondang P. Siagian mengemukakan “Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara 2 orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya” (1994:3). Berdasarkan uraian dan definisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi adalah seluruh kegiatan yang dilakukan melalui kerjasama dalam suatu organisasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.
Jika pendapat para ahli tersebut
dianalisis lebih mendalam sesuatu Negara yang ingin mencapai kemajuan dalam
berbagai aspek kehidupan modern tidak mempunyai pilihan lain selain dari pada
mengutamakan pembinaan serta pengembangan administrasinya yang sesuai dengan
faktor-faktor lingkungan (ecological factors) bangsa dan Negara itu serta
mengembangkan administrator-administrator pada semua lini baik di bidang
politik, ekonomi, kebudayaan, militer dan lainnya. Apabila pelaksanaan suatu keputusan dengan
efisien dan ekonomis itulah yang merupakan sasaran utama dari administrasi.
Sondang P. Siagian menggambarkan bahwa
administrasi sebagai proses yang harus dilalui oleh Administrator dalam
mencapai tujuan. Dimana suatu proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan teertentu
yang dimulai sejak adanya dua orang yang bersepakat untuk bekerja sama untuk
mencapai tujuan tertentu. Tidak dapat dikatakan kapan suatu proses tersebut
berakhir, dan juga tidak dapat diketahui kapan kedua orang bekerja sama
tersebut memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi.
Dalam administrasi untuk menggerakkanya
membutuhkan administrator yaitu orang-orang yang bertugas untuk mengurusi
hal-hal yang berhubungan dengan administrasi yang sebagaimana pengertian diatas
PERAN TEORI
STUDI ADMINISTRASI
a. Teori
Deskriptitif
Konsep Stephen K.
Beiley dan William L. Morrow dalam membahas peran teori dan praktik
administrasi public mengatakan teori berbeda-beda antara satu dan yang lain
sesuai dengan jenis dan golongan masing-masing teori dimana mereka mengatakan
pembahasan peran teori-teori administrasi public/Negara. Administrasi pubik yaitu
untuk menggambarkan bersama-sama tentang pengetahuaan umat manusia dan
proposisi-proposisi yang telah teruji dari ilmu pengetahuan Sosial dan prilaku
serta penerapannya bagi penyempurnaan tugas-tugas dalam proses pemerintahan
guna mencapai tujuan-tujuan yang sah seperti yang diamanatkan oleh
konstitusi, teori ini juga berperan
untuk menyempurnakan apa-apa yang dikerjakan dalam kegiatan administrasi. Bahkan
Bailey menyatakan bahwa dalam rangka penyempurnaan para administrator dapat
diterapkan riset dan teori-teori dari disiplin yang lain. Para sarjana juga
mengungkapkan yang berhubungan dengan teori mempunyai dua argument, menentukan
sebab-akibat yang mempengarui prilaku dan mendorong serta menyediakan petunjuk
dengan mana prilaku tertentu dapat dirubah untuk meningkatkan pelayanan yang
lebih berguna serta pencapaian tujuan yang telah diamanatkan. Penemuan tersebut membantu para administrator
berprilaku secara professional dan melakukan misi tertentu megubah arah
kebijakan public dengan memamfaatkan keahlian birokrasi. Teori ini digunakan
untuk menyempurnakan pemerintahan untuk itu teori menyertai perubahan.
b. Teori Normatif
Teori normative yaitu teori-teori yang
berisi nilai-nilai yang menjadi arternatif keputusan yang seharusnya diambil
oleh Praktisi dan apa yang harus dikaji dan dianjurkan kepada Administrator
Profesional. Teori normatif berhubungan
dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantu Administrasi public untuk menetapkan
tugas dan pokok dan fungsinya (tupoksi) misalnya Perlukah administrator
memperkenalkan rencana menyeluruh untuk pemeliaraan dan konservasi hutan belantara dan sumber alam? Atau apakah
kebijakan Joko Widodo dalam melelang jabatan kepada Lurah dan Camat di DKI
Jakarta akan berdampak pada meningkatnya produktifitas kinerja Lurah dan Camat?
C. Teori Asumtif
Teori ini yang
memberikan pemahaman yang benar tentang realitas seorang administrator, suatu
teori yang tidak mengambil suatu asumsi model setan maupun model malaikat
birokrat. Teori ini juga berhubungan dengan dengan peningkatan kualitas
praktek-praktek administrasi dengan menerima kelaziman orang dalam interaksinya
dengan lembaga politik dan memahami mengapa ia berkelakuan seperti yang ia
kerjakan dalam setting birokrasi. Disini administrasi public membatasi
realitas/kenyataan disebabkan pengetahuan yang kita miliki tentang orang-orang
dan magaimana hubungan administrator dengan lingkungan lembaganya masih kurang
lengkap. Menurut teori ini juga administrator professional dapat membantu untuk
menjalankan administrasi sesuai batas – batas lingkungan lembaganya.
c. Teori
Instrumental
Teori ini mengajarkan administrator
professional teknik-teknik administrasi manajemen. Berhubungan dengan bagaimana dan kapan untuk
mengimplementasikan program-program pertumbuhan merupakan bagian langsung untuk
menyatakan kebutuhan dari program – program itu sendiri. Serta bagaimana dan
kapan program itu harus dilaksanakan oleh administrator profesional.
ADMINISTRATOR
DIANTARA TEORI DAN APLIKASI
Dalam evolusi teori
Morrow secara garis besar membagi evolusi teori ini kedalam dua golongan besar
yaitu teori administrasi klasik dan administrasi modern (Contemporary theory).
Pemamfaatan teori administrasi public telah mengiringi pertumbuhan administrasi
public sebagai salah satu disiplin ilmu yang telah menyadarkan diri pada
birokrasi public, dapat dikatakan telah terjadi perkembangan semenjak
tradisi-tradisi menjadi norma-norma didalam administrasi public, dengan
tekanan-tekanan politik menjadi adminitrasi sebagai instruman yang lebih
efektif dari kemauan public. Korelasi adnata kepopuleran administrasi public
klasik dengan penekanannya pada efesiensi baik pada privat dan pada
sektor-sektor public. Ajaran Taylor atau yang sering disebut aliran manajemen
ilmiah menekankan pada peleburan atau penyatuan seumber daya atau tenaga
kerja untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya dengan cara yang lebih efisien, penekatan pada Manajemen
mekanik, ukuran alat-alat kerja, gerakan para pekerja dan training para
npekerja dengan tujuan memperoleh satu cara yang terbaik guna
mengimplementasikan suatu kebijakan yang ditetapkan sebelumnya.
Berbeda
dengan ajaran Taylor, Sosiolog Jerman Max Weber (1864-1920) menekankan pada
deskripsi yang agak preskripsi, menekankan pada pola kewenangan didalam birokrasi
yaitu Tipe Ideal dimana birokrasi adalah suatu bentuk organisasi yang efisien,
efektif, dan mampu meningkatkan produktifitasnya. Sebagaimana karakteristiknya
sebagai berikut :
a. Aturan
dan Prosedur formal. yaitu adanya pengaturan fungsi –fungsi resmi yang saling
terikat oleh aturan aturan yang menjadikan fungsi resmi itu satu kesatuan yang
utuh.
b. Spesialis
pekerjaan. Adanya pembagian kerja yang jelas dalam organisasi sehingga setiap
anggota organisasi (administrator) mempunyai tugas yang jelas dan juga mempunyai
wewenang yang seimbang dengan tugas yang dijalankan.
c. Kejelasan
hierarki. Yaitu tingkatan yang lebih rendah diawasi oleh tingkatan yang lebih
tinggi sehingga tersusun suatu hierarki otoritas yang runut mulai dari
tingkatan yang tinggi sampai tingkatan yang terendah
d. Pegembangan
karir berdasrkan merit system. Adanya system penerimaan dan penempatan karyawan
didasrkan pada teknis tanpa memperhatikan sama sekali koneksi, hubungan
keluarga maupun favoritme.
e. Impersonality.
Artinya adanya pemisahan antara pemilikan alat produksi maupun administrasi
dari kepemimpinan organisasi. Pemisahan ini akan membuat organisasi bersipat
Impersonal, yang dianggap penting untuk mencapai efesiensi.
f. Adanya
objektifitas dalam melaksanakan tugas yang berkaitan dengan suatu jabatan dalam
organisasi.
g. Kegiatan
administratif. Keputusan – keputusan dan peraturan dalam organisasi selalu
dituangkan dalam bentuk tertulis.
Sebagai tipe ideal bentuk birokrasi dari
Weber memang menjanjikan keunggulan dalam bagi Administrator Profesional dalam
mencapai efisiensi dan efektifitas organisasi. Dengan birokrasi idealnya posisi
– posisi administrator akan diisi melalui proses seleksi yang didasarkan pada
keahlian. Subjektifitas dalam penempatan pegawai digantikan oleh objektifitas,
pemisahan manajemen dengan pemilik telah menghasilkan suatu mekanisme rekrutmen
para professional. Pemisahan ini akan dapat menciptakan kondisi yang kondusif
bagi para professional untuk mengambil keputusan yang rasional. Rasionalitas
dalam pengambilan keputusan akan mempertinggi efisiensi.
Sementara itu Henry Fayol berusaha
menjelaskan prinsip-prinsip umum yang diterapkan pada semua level
administrasi dan berusaha menjelaskan
fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manager. Menurut prinsip-prinsip yang
diamatinya dalam melakukan pekerjaan itu, dia tidak berusaha menghasilkan suatu
teori logis atau filsafat yang serba lengkap mengenai manajemen. Menurut Fayol ada 14 prinsip manajemen yaitu
a. Division Of Labor (Pembagian kerja)
b. Autority (kewenangan) c. Discipline
(disiplin) d. Unity of command (Kesatuan komando) e. Unity of management
(Kesatuan arah manajemen) f. Menomorduakan kepentingan perorangan dari
kepentingan umum g. Remuneration (penggajian/Upah) h. Centralization
(Sentralisasi) i. the Hieralchy (jenjang kedudukan) j. Order (tata tertib) k.
Equity (Keadilan/kesamaan) l. Stabiliti of staff (Kestabilan Staf) m.
Initiative (Inisiatif atau prakarsa) n. Esprit de corps (Semangat kops). Semua
maksud dari prinsip-prinsip tersebut
adalah untuk administrative actions yang bisa dipakai oleh administrator
professional untuk diterapkan dalam organisasi mencapai tujuan.
Dalam tulisan Herbert Simon pada tentang
administrative Behavior yang terbit tahun 1947 tentang prinsip-prinsip
administrasi dari Henry Fayol, dimana dia mengatakan bahwa ditemukan dua
prinsip kontradiktif yang cocok untuk situasi tertentu. Prinsip-prinsip
tersebut tidak jelas, ambiguous dan tidak terdefinisi secara baik. Sebagai
suatu prinsip ilmiah prinsip-prinsip tersebut tidak berguna. Maksud Simon prinsip-prinsip
itu dapat diumpamakan sebagai pribahasa karena prinsip itu tidak menyediakan
bimbinganatau petunjuk bagaimana prinsip-prinsip itu akan diterapkan atau akan
diimplementasikan. Prinsip-prinsip administrasi menyediakan satu kumpulan
pilihan dalam satu situasi tapi tidak jelas tentang ‘apa yang seharusnya
menjadi dasar pilihan – pilihan itu’. Bagi Simon teori administrasi concern
dengan bagaimana suatu organisasi harus deconstruct dan dioperasikan untuk
mencapai tujuan yang efisien. Berdasrkan hal-hal tersebut. Simon mengajukan
konsep pengambilan keputusan yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon
ini dapat dilihat dari tiga Aspek yaitu
1. Keputusan
adalah dasar dari teori administrasi yaitu suatu keputusan yaitu suatu
kesimpulan yang diambil dari sejumlah premis-premis tertentu, apakah itu nilai
ataukah itu fakta.
2.
Instrumental Rationality merupakan
otoritas atau kewenangan adalah kekuasaan untuk membuat keputusan yang
membimbing orang lain.
3.
Satisfying yaitu batasan dari
pengambilan keputusan yang sifatnya rasional.
Dalam birokrasi kita memang membutuhkan
administrator professional untuk mengelola pemerintahan. Dimana selama ini
kesan yang tidak baik terhadap birokrasi dikarenakan pelayanannya yanga
terbelit-belit, lambat, mempersulit, tidak efisien dan tidak adktif. Apa lagi
selama ini bagi masyarkat awam birokrasi adalah penguasa yang sangat menentukan nasib mereka yang
hanya berstatus rakyat dan bagi mereka birokrasi juga Penggusuran, pungli,
kolusi, korupsi dan berbagai konotasi menyakitkan lainnya. Padahal itu tidak
perlu terjadi pada dasarnya tujuan utma birokrasi adalah menghasilkan sesuatu
yang memiliki nilai dengan cepat, tepat, dan dengan biaya yang masuk akal. Nah
disilah perlunya administrator professional yang bisa mengaplikasikan teori-teori
administrasi dalam upaya rasional dan legal untuk mengelola organisasi secara
efisien dan efektif, memperlakukan semua
orang secara sama (equity), pengisian jabatan atas dasar keahlian dan
pengalaman, tidak melakukan penyalahgunaan jabatan, mengatur standar kerja yang
jelas, system administrasi yang teratur dan rapi serta pengadaan dan
pelaksanaan aturan bagi kepentingan organisasi yang mengikat bagi semua
anggotanya. Administrator professional juga dituntut menjauhi praktek
partikularisme (napotisme & primordialisme) dalam kepegawaian ataupun dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat (Miftah Thoha, 1995). Begitu juga dalam
pemberian lisensi dan perizinan usaha, misalnya harus jelas persyaratan,
prosedur, biaya, waktu penyelesaian, dan bersikap terbuka sehinnga pihak yang
berkepentingan dapat menyelesaikan urusannya tanpa menghabiskan waktu dan biaya
yang tidak perlu.
Dalam mempertahankan konsistensinya
Administrator professional dituntut untuk terus mengembangkan teori-teori
administrasi dan mengaplikasikannya dalam organisasi serta mengembangkannya sesuai
dengan perubahan-perubahan lingkungan dan tuntutan birokrasi yang
berubah-berubah serta meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Masyarakat sekarang menuntut pelayanan yang sederhana , adanya kepastian,
keamanan, kenyamanan keterbukaan, efesiensi dan ekonomis, keadilan dan
ketepatan waktu. Untuk itu Administrator untuk terus-menerus memperbaiki
dirinya.
- KESIMPULAN
Administrator
adalah orang-orang yang bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan
dengan administrasi. Menurut The Liang Gie (1979, 11) mengatakan
“Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi
Adminitrator merupakan orang-orang yang terlibat dalam suatu kerjasama untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam praktiknya organisasi membutuhkan
Administrator-administrator yang professional
untuk menggerak proses administrasi sehingga dapat tercapai tujuan yang di inginkan.
Lahirnya administrator - administrator
profesional berawal dari mempelajari teori-teori yang dikemukan oleh para
ahli-ahli administrasi dan mengaplikasikannya kedalam pelaksanaan administrasi
organisasi untuk mencapai tujuan yang di inginkan.
Menurut
Bailey peran teori dalam administrasi public bisa dilihat dari aspek studi
maupun praktik administrasi public. Menurut Bailey ada empat golongan teori
yaitu :
1.
Deskriptif
2.
Normatif
3.
Asumtif
4.
Instrumantal
Penyempurnaan
akhir praktik administrasi akan tergantung pada kemampuan ahli-ahli teori dalam
memformulasikan secara konsisten dan memfokuskan atas citra kepribadian
Administrator atau lembaga.
Dalam tulisan Herbert Simon mengajukan
konsep pengambilan keputusan yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon
ini dapat dilihat dari tiga Aspek yaitu
1. Keputusan
adalah dasar dari teori administrasi yaitu suatu keputusan yaitu suatu
kesimpulan yang diambil dari sejumlah premis-premis tertentu, apakah itu nilai
ataukah itu fakta.
2. Instrumental
Rationality merupakan otoritas atau kewenangan adalah kekuasaan untuk membuat
keputusan yang membimbing orang lain.
3. Satisfying
yaitu batasan dari pengambilan keputusan yang sifatnya rasional.
Teori
Morrow secara garis besar membagi evolusi teori ini kedalam dua golongan besar
yaitu teori administrasi klasik dan administrasi modern (Contemporary theory).
Dalam mempertahankan konsistensinya
Administrator professional dituntut untuk terus mengembangkan teori-teori
administrasi dan mengaplikasikannya dalam organisasi serta mengembangkannya
sesuai dengan perubahan-perubahan lingkungan dan tuntutan birokrasi yang
berubah-berubah serta meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Masyarakat sekarang menuntut pelayanan yang sederhana , adanya kepastian,
keamanan, kenyamanan keterbukaan, efesiensi dan ekonomis, keadilan dan
ketepatan waktu. Untuk itu Administrator untuk terus-menerus memperbaiki
dirinya.
DAFTAR
PUSTAKA
The Liang Gie (1979) Unsur-unsur Adminisrasi. Yokyakarta:
Karya Kencana
Siagian, Sondang P. (1971). Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung
Agung
Morrow, William L.
(1975). Publik Administration, Politics
and The Political System. New York: Random House Inc
Henry, Nicholas. (1998)
Administrasi Negara. (diterjemahkan oleh Luciana D. Lontoh ). Jakatata: CV
Rajawali
Harmon, Michel M. and Richard
Mayer. (1986). Organization Theory for
Public Administration. Boston: Little Brown & Co
Robbins, Stephen P.
(1994) Teori Organisasi. Stuktur, Desain
& Aplikasi). Edisi 3. Jakarta: Ancan
Thoha, Miftah. (1995). Birokrasi Indonesia dalam Era Globalisasi.
Jakarta: Batang Gadis
artikel non-personal. 04
Agustus 2013. Administrator: Wikipedia Bahasa Indonesia
Sabtu, 11 Mei 2013
Jumat, 03 Mei 2013
Selasa, 30 April 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
komentar
saran dan kritik anda memperbaiki kekurangan yang ada
fajaro. Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.




